Aku Belajar Membenci …
25 Okt 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in Jejak Hati Tag:belajar, benci, buku harian, cerita pendek, cerpen, kata hati, kebencian, kehidupan, nuari, sastra
Jiwaku mencaci, batinku memaki.
Inilah babak baruku. Kecewa dan amarah itu beradu mulut. Jiwaku sibuk mencaci karena pupusnya harapan untuk bersatu dengan istri dan anakku. Batinku tiada henti memaki keadaan yang puas menyiksaku dengan perpisahan.
“Apa yang kau lihat, Ha?!?”, jiwa menghardik.
Batin pun membentak.
”Aku melihat gelap! Sekarang lentera padam, karena engkau lupa menjaga bara, dan menambahkan minyak ke dalamnya. Belum pernah kutemukan jiwa goblok sepertimu!!”.
Jiwa membalas tak kalah panas.
“Oh ya? Mau tahu apa yang kulihat?!? Aku melihat ruang kosong! Seluruh isinya lenyap karena engkau lalai mencegah waktu yang datang mengendap-endap dan mencurinya. Belum pernah juga aku berjumpa batin yang bodoh sepertimu!!”
Jiwa dan batinku meronta kian lantang. Jiwa semakin meradang tanpa pelita, dan batin terus mengumpat dinding tanpa penghuni.
Seharusnya jiwa dan batinku tak perlu mengumbar amarah. Sebab, dulu aku sudah mencercap kehidupan indah kendati tak berjalan mudah. Sejak pertama menikah, aku belum bisa hidup serumah dengan istri dan anakku. Istriku bekerja di sebuah kota kecil tempat kelahirannya. Ia menjalani keseharian bersama seorang anak kami. Lalu aku, bekerja di kota lain yang juga tempat kelahiranku.
Tetapi semua itu bukanlah masalah untuk aku dan istriku. Aku setia menjalani pekerjaanku karena pertimbangan penghasilan yang cukup memuaskan. Tepat sesuai dengan keadaan yang menuntutku menanggung kehidupan adik dan orang tuaku, tidak melulu untuk rumah tanggaku sendiri. Tidak ada yang salah juga jika istriku bekerja, sebab ia pun mendukung keuangan keluarganya.
Aku, istri dan anak bertemu dua hari di setiap pekan. Namun, aku setia dan bahagia menjalaninya. Setidaknya, di tengah keterbatasan itu masih ada harapan lebih untuk bersatu.
Dulu, hanya butuh waktu tiga jam untuk berjumpa dengan istri dan anakku. Dulu, aku hidup di kota yang berjalan lambat dan bersahabat. Dulu, setiap sehari aku bisa meraih berbagai kemajuan untuk merancang kehidupanku. Dan dahulu juga, begitu banyak teman malam hari tempat berbagi dialog, mengimbangi kosongnya kerinduan pada istri dan anakku.
Itu dulu, sebelum datang waktu yang membawa kabar perpisahan.
*****
Enam tahun kemudian.
“Begini. Sulit memang menyampaikannya, tetapi tak ada pilihan lain kecuali pindah ke Jakarta. Produk kalian di daerah dinilai tak lagi menguntungkan secara bisnis”.
Begitulah rangkaian kalimat yang diucapkan pimpinan pusat di hari itu. Kabar itu berarti kejelasan: aku akan menempuh setengah hari perjalanan untuk bertemu keluarga. Aku tak mungkin lagi bertemu setiap pekan. Aku terseret makin jauh dari mereka, dan tak ada kekuatan menawar demi mempertahankan penghidupan.
Aku tak mengeluarkan sepatah kata kecuali mengangguk. Tak sedikitpun aku tertarik pada sorot iba sang pimpinan ketika menyampaikan kabar itu. Bagiku semua jelas; tak ada gunanya aku bersusah payah menabung untuk mencari tempat tinggal. Aku pun tahu, tak ada gunanya bersusah payah merancang agar aku dan istriku bisa hidup sekota. Tak ada gunanya juga aku menyelami setiap sudut kota untuk membuat produk bermutu sesuai harapan pimpinan. Enam tahun masa berpeluh hanya berlabuh pada satu kata: pindah.
*****
Ini adalah awal tahun. Kabar dari sang pimpinan menjadi kenyataan. Aku berpamitan dengan istri dan anakku, beserta janji untuk mengunjungi mereka setiap dua pekan. Tak bisa kulupakan sungai perpisahan yang terurai di wajah istriku. Lukanya adalah pedihku. Air matanya adalah sakitku.
Kuawali bekerja di Jakarta sebagai pesakitan. Sambutan ramah rekan kerja di ibukota hanya kulihat sebagai bunga pergaulan. Lalu semua sinisku terbukti benar, Setidaknya pada sebagian besar hal. Di sinilah tempat setiap orang peduli untuk misi pribadi. Mereka tersesat dalam rimbanya riba.
Hampir tak ada manusia nurani di sini. Nyaris semua manusia berjubah industri. Perempatan jalan diisi pak ogah. Terkadang berjajar juga calon penumpang mobil di kawasan khusus berpenumpang tiga orang.
“Tiinn! Tiiinnn! Hooii….buruan jalan, goblok!”.
Aku menjumpai salah satu pengendara mobil meneriaki pengemudi angkutan kota yang berhenti di tengah jalan. Benar-benar tepat di tengah jalan.
“Tiinn!! Tiiinnn!! Maju Pak !!”.
Begitulah mereka berseru kepadaku. Kali lain, aku yang menjadi salah karena berhenti di saat lampu lalu-lintas menyala merah. Betul-betul menyala merah.
Aroma jalanan kesetanan itu menguar setiap hari. Kendaraan saling seruduk, berpacu ke tempat bekerja. Sementara, tempat kerja hanyalah ruang berikut untuk melampiaskan kesetanan. Kantor menjadi ajang bertaruh ego ketimbang beradu ide. Kesuksesan berarti memenangkan pertengkaran, sekalipun tiada hasil pada kemajuan pekerjaan. Bermurah hati dalam pekerjaan berarti siap menjadi tumbal bagi mereka yang gemar melempar pekerjaan.
“Aku sibuk nih, kamu saja yang menyelesaikan, ya? “.
Ah, alasan tak berakal itu diucapkan seorang teman kepadaku. Bukankah semua orang seharusnya sibuk? Untuk apa menyambangi kantor jika tak ada kesibukan menanti?
*****
Enam Bulan Kemudian.
Semua ruang di kota ini meminta uang. Tak ada tepi jalan atau sudut trotoar tempat berkumpul cuma-cuma, seperti dulu di kotaku. Perlahan kurasakan juga mahalnya waktu dan ongkos menjenguk istri dan anak. Biaya murah berarti sisa waktu menjenguk keluarga yang habis di jalan. Menciptakan waktu lebih banyak berarti siap mengeluarkan uang lebih besar. Sebagian besar orang akan ramah manakala datang rupiah.
Tetapi enam bulan memberikan waktu cukup bagiku untuk belajar.
“Hanya ada satu tempat untuk sembunyi dari semua kesakitan itu”, demikian jiwaku berujar.
Dan batin ini menyambung.
”Di manakah itu?”
Lalu jiwa memutus dialog.
“Di sini, seperti malam ini. Di dalam kamar ini, bersama buku harian ini”.
Ya, aku sudah menemukan ruang untuk membebaskan sesak jiwa. Aku menemukan tempat membuang penat batin. Aku bersama laptop, buku harianku. Aku dan buku harianku terus berbagi malam demi malam. Aku dan dia bertukar dendam di tepi pergantian hari. Bersama gelap, senyap dan aroma kesumat dalam sekat kamar pondokanku.
Dari balik dinding ini aku menemukan pelajaran. Aku, belajar untuk membenci.
Jakarta, 25 Oktober 2011. 23:06
Pesan Kemanusiaan dari Steve Jobs
17 Okt 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in Jejak Hati Tag:apple, stanford, stay hungry stay foolish, steve jobs
Boleh jadi ia seorang CEO perusahaan ternama bernama Apple. Boleh jadi ia menjadi bagian dari manusia ekonomi, atau sebagian dari mereka yang sinis akan menyebut orang serupa dia sebagai “binatang ekonomi”. Tetapi ia tidak membicarakan soal harta, bisnis, profit, dan segala sesuatu aspek riba dalam pidatonya. Apa yang dia ungkapkan adalah dia apa adanya, seperti kodratnya, sebagai manusia.
Mari simak pidatonya di hadapan lulusan Stanford university (12 Juni 2005)
Saya sangat tersanjung untuk berada bersama kalian dalam perayaan kelulusan kalian dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah lulus dari universitas. Jujur, hari inilah saat terdekat yang pernah saya rasakan terhadap kelulusan dari perkuliahan. Hari ini saya ingin menyampaikan tiga cerita kepada anda semua mengenai kehidupan saya. Hanya tiga buah cerita.
Cerita pertama adalah mengenai menghubungkan titik-titik.
Saya drop-out dari Reed College setelah 6 bulan pertama saya di sana, tapi saya tetap pergi ke kampus selama 18 bulan setelahnya, sebelum saya benar-benar keluar dari sana. Mengapa saya drop-out ?
Hal ini berkaitan dengan pertistiwa sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah seorang wanita lulusan kuliah yang tidak menikah, dan dia memutuskan untuk menjadikan saya anak adopsi. Beliau merasa bahwa saya harus diadopsi oleh orang lulusan kuliah juga, jadi semuanya telah direncanakan sebelum saya lahir, untuk diadopsi oleh seorang pengacara, begitu saya lahir. Namun, ternyata mereka yang tadinya ingin mengadopsi saya menginginkan anak perempuan, sehingga orang tua angkat saya mendapatkan telepon di tengah malam, “kami baru saja mendapatkan bayi laki-laki yang tak diduga, maukah kalian mengadopsinya?”, orang tua saya mengatakan,”tentu saja”. Sampai pada akhirnya ibu kandung saya mengetahui bahwa orang tua angkat saya bukan lulusan kuliah, bahkan Ayah saya tidak pernah lulus SMA. Ibu kandung saya menolak menandatangani surat pernyataan adopsi, sampai akhirnya ia setuju setelah orangtua angkatku berjanji bahwa aku akan kuliah jika telah tiba waktunya.
Dan 17 tahun kemudian aku memang pergi melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi. Tapi dengan naïf aku memilih sebuah universitas yang hampir semahal Stanford, dan semua tabungan simpanan orang tuaku dihabiskan untuk biaya kuliahku. Setelah 6 bulan aku tidak melihat nilai yang berharga di sana. Aku tidak tahu harus berbuat apa dalam hidupku dan aku melihat kuliah juga tidak bisa memberikan jawabannya. Jadi aku memutuskan untuk keluar dari kuliah dan percaya dalam hati bahwa semua akan OK-OK saja. Sangatlah menakutkan saat pertama kali mengambil keputusan tersebut, tetapi jika saya melihat ke belakang hari ini, hal itu adalah keputusan terbaik yang pernah saya lakukan. Begitu saya keluar dari kuliah, saya bisa memutuskan untuk tidak mengambil mata kuliah yang tidak menarik perhatian saya, dan hanya mengambil mata kuliah yang bagi saya menarik.
Tidak semuanya berjalan mulus. Saya tidak punya kamar asrama. Saya menumpang di kamar salah seorang teman, tidur di lantainya, dan mengembalikan kaleng coke ke pusat daur ulang untuk mendapatkan 5 sen, uang itu kugunakan untuk membeli makanan. Saya berjalan kaki sejauh 7 mil setiap hari Minggu malam untuk mendapatkan makan malam yang layak di Kuil Hare Krishna. Saya menyenangi semuanya itu. Dan betapa ketertarikan dan intuisi, serta hasrat ingin tahu ku menjadi hal yang tidak ternilai harganya. Ini salah satu contohnya:
Reed College pada saat itu menyediakan kelas kaligrafi terbaik di seluruh negeri. Di seluruh daerah di kampus, setiap label di laci-laci, ditulis tangan dengan kaligrafi yang sangat bagus. Karena aku telah drop-out dan tidak harus mengambil mata kuliah normal, aku malah mengambil mata kuliah kaligrafi untuk belajar mengenai hal tersebut. Aku belajar mengenai tipe huruf serif dan sans-serif, tentang variasi spasi terhadap berbagai kombinasi huruf, tentang hal-hal yang membuat tipografi menjadi sangat indah. Hal itu adalah hal terbaik, terindah, dan ter-artistik dalam suatu tatanan yang tidak bisa dijelaskan oleh sains, dan aku menemukan bahwa hal itu menyenangkan.
Tidak ada satupun sayng saya pelajari itu teraplikasikan secara praktek nyata dalam hidup saya. Tetapi 10 tahun kemudian, ketika saya mendesain komputer Macintosh pertama saya, semuanya kembali lagi kepada saya. Dan kami telah melakukannya, Mac adalah komputer pertama yang mengedepankan tipografi yang indah. Jika saya tidak mengambil kelas kaligrafi itu, Mac tidak akan pernah memiliki beragam huruf dengan tipografi yang indah dan eksotis. Dan karena Windows hanya meng-copy Mac, Tidak ada satupun komputer personal yang memiliki tipografi huruf seindah itu. Jika saya tidak drop-out dari kuliah, saya tidak akan pernah mengambil mata kuliah tipografi, dan tidak akan ada komputer personal dengan tipografi yang indah. Tentu tidak mungkin kita menghubungkan titik-titik kehidupan kita jika kita melihat ke depan, terutama ketika saya di perkuliahan. Akan tetapi, hal ini menjadi sangat jelas, titik-titik kehidupan itu dapat kita hubungkan jika kita melihat ke belakang, ke masa sepuluh tahun yang lalu.
Saya tekankan, kamu tidak bisa menghubungkan titik-titik itu jika melihat ke depan, kamu baru bisa menghubungkannya jika melihat ke belakang, sehingga kamu hanya harus percaya bahwa titik-titik itu akan menghubungkan masa depanmu. Kamu harus percaya pada sesuatu – keberanian, takdir, kehidupan, karma, apapun kamu menyebutnya. Pendekatan ini tidak pernah membuat saya kecewa, dan telah membuat perubahan besar dalam hidup saya.
Cerita kedua saya adalah mengenai cinta dan kehilangan
Saya beruntung – saya menemukan apa yang saya senangi di awal-awal kehidupan saya. Woz (Steve Wozniak, sohibnye si Jobs) dan aku memulai Apple di garasi rumah orang tuaku ketika aku berumur 20 (Oh shit, gw dah 20 taon, garasi rumah gw isinya masih si karimuntakbertenaga itu, hikz.. ups sori2,redaksi). Kami bekerja keras, dan dalam 10 tahun Apple telah berkembang dari kami berdua di garasi menjadi sebuah perusahaan senilai 2 miliar US dollar dengan lebih dari 4000 pekerja. Saat kami baru saja melepas kreasi terbaik kami ke pasaran –Macintosh- setahun lebih awal, dan saya beranjak ke umur 30. Dan saya dipecat. Bagaimana kamu bisa dipecat dari perusahaan yang kamu buat sendiri ? Seiring dengan perkembangan Apple, kami menggunakan seseorang yang saya pikir sangat baik untuk mengelola perusahaan ini bersama saya, dan untuk beberapa tahun hal ini berjalan dengan baik. Tetapi kemudian visi dan misi kami mulai berbeda, dan terjadi kemelut sehingga kami jatuh. Dewan Direksi berpihak kepadanya. Jadi pada umur 30 tahun saya keluar. Benar-benar keluar dari Apple. Apa yang telah menjadi focus tujuan hidup saya hilang, dan hal itu sangat menyakitkan. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan beberapa bulan ke depan. Saya merasa bahwa saya telah membuat generasi entrepreneur saya jatuh, seolah-olah tongkat estafet itu jatuh ketika dioper kepada saya. Saya bertemu David Packard dan Bob Noyce dan mencoba meminta maaf karena telah mengacaukan segalanya. Saya benar-benar hancur dan pernah berpikiran untuk pergi dari Sillicon Valley. Tetapi sesuatu mulai menunjukkan titik terang kepada saya- saya masih menyukai apa yang saya perbuat. Titik balik hidup saya di Apple tidak berubah sedikitpun. Saya telah dipecat, tapi saya tetap mencintai bidang itu. Jadi saya memutuskan untuk memulai lagi.
Saya tidak mengerti pada awalnya, namun akhirnya saya mengerti, bahwa dipecat dari Apple adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada hidup saya. Hal berat mengenai sosok orang yang sukses diganti lagi dengan keringanan menjadi seorang pemula lagi. Hal ini membebaskan saya untuk memasuki salah satu masa paling kreatif dalam hidup saya.
Dalam 5 tahu kedepannya, saya memulai sebuah usaha baru yang diberi nama NeXT, sebuah perusahaan yang nantinya akan bernama Pixar, dan aku jatuh cinta pada seorang wanita yang luar biasa yang sekarang menjadi istri saya. Pixar menjadi perusahaan pertama yang memroduksi film animasi komputer, berjudul Toy Story, dan Pixar menjadi salah satu perusahaan animasi tersukses di dunia. Lalu singkat kata, Apple membeli NeXT, aku kembali ke Apple, dan teknologi yang dikembangkan di NeXT menjadi inti dari kebangkitan Apple pada masa itu. Dan Laurene (duh, namanya itu loh…,redaksi) dan saya memiliki keluarga yang bahagia.
Saya percaya bahwa hal ini tidak mungkin terjadi jika saya tidak pernah dipecat dari Apple. Masa itu merupakan pil pahit, tapi pasien yang sakit membutuhkannya untuk sembuh. Terkadang kehidupan memukul kepalamu dengan batu bata yang keras. Jangan Kehilangan kepercayaan! Saya yakin bahwa satu-satunya hal yang membuat saya terus maju adalah saya mencintai apa yang saya kerjakan. Kamu harus menemukan apa yang kamu sukai, jika kamu belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hatimu akan menunjukkan hal apa yang membuatmu tertarik ketika kamu menemukannya. Dan seperti halnya sebuah relasi yang kuat, kesukaan itu akan bertambah baik setelah lama kamu menekuninya. Jadi, teruslah mencari apa yang kamu sukai. Jangan menyerah.
Cerita Ketigaku adalah mengenai Kematian
Ketika aku berumur 17 tahun, aku membaca sebuah pepatah yang kira-kira berbunyi seperti demikian: “Jika kamu menganggap setiap hari adalah hari terakhir kamu hidup, maka perilakumu tentu akan berbeda.” Hal ini memberikan pengaruh terhadap hidupku, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun, aku selalu melihat cermin dan bertanya kepada diriku sendiri, “Jika ini adalah hari terakhir aku hidup, apa yang akan kulakukan hari ini ?” Jika jawabannya adala “Tidak” untuk beberapa hari berurutan, aku tahu bahwa aku perlu mengganti sesuatu.
Mengingat bahwa aku akan segera mati adalah sebuah alat yang efektif yang dapat aku temukan untuk membuat pilihan yang tepat atas hidupku. Karena hampir semuanya – ekspektasi orang lain, ketenaran, ketakutan akan kegagalan, atau dipermalukan – Hal-hal ini akan runtuh saat kita menghadapi maut, dan meninggalkan sesuatu yang sangat penting. Mengingat bahwa kita akan mati adalah cara paling baik untuk menghindari perangkap bahwa kita akan kehilangan sesuatu. Kamu sudah telanjang. Tidak ada alasan untuk tidak mengikuti tujuan hati.
Sekitar setahun yang lalu aku didiagnosis menderita kanker. Aku di-scan jam 7.30 pagi, dan menunjukkan aku memiliki tumor di pancreas. Aku bahkan tak tahu apa itu pancreas. Dokter memberitahuku bahwa kanker jenis ini dipastikan adalah jenis kanker yang tidak dapat disembuhkan, dan masa hidupku tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokterku menyarankan aku pulang ke rumah dan segera mempersiapkan segalanya, yang berarti adalah kode etik dokter untuk mempersiapkan kematian. Hal itu berarti berusaha menjelaskan kepada anak-anakmu apa yang dalam 10 tahun harus kamu beritahukan kepada mereka, namun harus kamu jelaskan dalam waktu beberapa bulan. Hal itu berarti untuk memastikan segalanya telah dipersiapkan dengan baik sehingga kepergianmu dapat diterima keluargamu dengan baik. Hal itu berarti untuk mengucapkan selamat tinggal.
Aku hidup dengan hasil diagnosis setiap hari. Sampai pada suatu sore aku di-biopsi, ketika mereka memasukkan endoskop melalui tenggorokanku, masuk ke lambung lalu sistem pencernaanku, dan mereka mengambil contoh sel pankreasku. Aku pasrah, namun istriku yang juga berada di sana, memberitahuku bahwa ketika para dokter memeriksa sel tersebut di mikroskop, Para dokter menjadi terharu kanrena megetahui bahwa ternyata kanker tersebut sangatlah langka dan ternyata dapat disembuhkan dengan operasi. Aku mengalami operasi dan sekrang baik-baik saja.
Itu adalah peristiwa di mana aku hampir dekat dengan kematian, dan aku berharap itu adalah yang paling menyerempet maut untuk beberapa puluh tahun mendatang. Dengan hasil diagnosis tersebut, sekarang saya dapat mengatakan dengan pasti bahwa kematian adalah konsep yang berguna dan dapat dipakai dengan pendekatan intelektual.
Tidak ada seorangpun yang ingin mati. Bahkan, mereka yang berharap akan masuk surga berharap mereka tidak harus mati untuk mencapai surga. Kematian adalah hal terakhir bagi semua orang. Tidak ada yang pernah luput dari peristiwa kematian. Sebagaimana seharusnya, Kematian adalah hal yang paling menakjubkan selain kehidupan. Kematian adalah agen perubahan kehidupan. Kematian membuat dunia yang lama tergantikan dengan yang baru. Sekarang anda adalah agen yang baru, tapi tak lama lagi, anda akan menjadi tua dan digantikan dengan yang baru lagi. Aku tak berusaha mendramatisir, namun inilah kenyataannya.
Waktumu terbatas, JADI JANGAN MENGHABISKAN WAKTUMU UNTUK MEWUJUDKAN IMPIAN ORANG LAIN. Jangan terjebak akan dogma-dogma yang ada – yaitu HIDUP DENGAN HASIL PEMIKIRAN ORANG LAIN. Jangan membuat pikiran dan anggapan orang lain malah mengaburkan suara hatimu. Dan yang paling penting, Milikilah selalu keinginan untuk mengikuti hati dan intuisimu. Hati dan intuisimu, dengan cara yang tak terduga sudah mengetahui apa yang sebenarnya kamu inginkan. Hal lainnya adalah hal sekunder.
Ketika aku masih muda, ada sebuah literatur yang sangat menakjubkan bernama The Whole Earth Catalog, yang merupakan salah satu buku terbaik selama generasiku. Dikarang oleh seseorang yang bernama Stewart Brand di suatu tempat tak jauh dari sini, yang bernama Menlo Park, dan ia memberikan sentuhan puitis terhadap dunia ini. Masa-masa ini adalah di akhir 1960-an, tepat sebelum personal computer tercipta, dan segalanya masih dibuat dengan Mesin Ketik, gunting, dan kamera Polaroid. Ini seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum Google tercipta: idealistis, dan tercipta dengan hal yang luar biasa.
Stewart bersama tim-nya menulis beberapa isu penting pada buku The Whole Earth Catalog, dan kemudian ketika saat mereka mulai habis, mereka menulis berita terakhir. Itu terjadi sekitar pertengahan tahun 1970, ketika aku seumur kamu. Di balik literatur terakhir mereka, ada sebuah foto mengenai jalanan di sebuah pedesaan di pagi hari, yang akan membangkitkan semangatmu untuk mendakinya jika kamu berjiwa petualang. Di bawahnya tertulis: “Stay Hungry, StayFoolish”. Itu adalah uacapan perpisahan mereka sebelum mereka pension. Stay Hungry, Stay Foolish. Dan aku berharap aku dapat selalu menerapkan hal itu dalam hidup saya. Dan sekarang, pesan saya kepada para lulusan baru… aku berharap…
Stay Hungry, Stay Foolish
Sumber: http://davsam.wordpress.com/2008/07/07/stevjobs-stay-foolish-stay-hungry/
Segelas Teh, Sepenggal Senja Kita
15 Okt 2011 2 Komentar
in Lentera Hati Tag:cerita pendek, cerpen, cinta, gelas, gorontalo, inspirasi, jakarta, keluarga, kerinduan, rindu, teh
Gelas itu punya Ayah.
Ya, gelas itu. Gelas kaca berukuran dua kali lebih besar dari gelas biasa, dengan gagang di satu sisinya. Engkau selalu bersamaku, berbagi teh hangat dari gelas ini di petang hari yang memesrai kita.
Dan hari itu, keluguanmu masih saja terpikir tentang kehangatan segelas teh dan kemesraan senja. Seharusnya Engkau tahu; kali ini senja tak membawa cinta. Senja hanya membiarkan perselingkuhan suara antara kita.
”Itu teh Ayah ya Bunda? Apa Ayah pulang?”.
Begitu engkau berucap dari seberang sana. Tetap saja, gelas besar di atas meja sore itu cukup untuk menyetubuhi ruang nyatamu dengan harapan.
Aku terhenyak. Ponsel yang menempel di telingaku perlahan meregang dalam genggaman. Belum usai aku mengeja ritme jantung yang kian rapat ketika kudengar lagi suaramu.
“Dikasih tutup Bunda, biang nggak dimasuki laleng. Itu…itu…masih panas ya Bun?
He-he-he, panas ya?”.
Engkau terus berceloteh, barangkali sambil memegangi gelas itu. Atau mungkin engkau sedang menengok isinya, seperti kebiasaanmu saat duduk di pangkuanku menjemput senja. Bibirmu pun belum lagi sempurna melafalkan kata “biar” dan “laler”, seperti petang hari sebelumnya.
Berkebalikan denganku. Suaramu mekar, sedangkan ujung lidahku meranggas. Aku mengambang tanpa jawaban. Hanya kubiarkan Bundamu berkata samar di seberang sana.
”Ini, teh untuk Bunda…. Ayah nggak pulang, Nak…”.
Lalu kudengar lagi engkau dan bundamu meneruskan percakapan.
“Ooo… Ayah datengnya besok? “.
“Enggak Nak, Ayah baru datang minggu depan….Sabar ya…”.
“Itu kan gelas Ayah, Bun?”.
“Iya, ini gelas Ayah, tapi tehnya buat Bunda…Ayah baru pulang minggu depan, ya Nak…”.
Dan, aku mendengar Bundamu bertutur lirih kepadaku.
” Dia manggut-manggut”.
Tak lama kudengar suara bibir mencercap air. Belum sempat suaraku pecah saat celotehmu kembali membuncah,
”Jangan diminum Bunda, itu teh Ayah! kasihan Ayah kalau tehnya diminum!”
Ah, engkau masih saja menggantung harapan….
Kupaksakan diri meluluhkan lidah yang kelu. Kukeluarkan suara tak kalah keras, menggertak batin yang mulai retak.
“Nggak pa-pa Nak, biar Bunda minum pakai gelas itu!”
Sayang aku gagal merengkuh kepingan rapuh ini saat engkau membalasnya kian sengit. Justru bukan karena perkataanku yang kau lawan, melainkan karena Engkau menjerit berseteru dengan Bundamu.
“Bundaaa!!! Itu teh Ayaahhhh !!!”
Tangismu pecah. Riuh, lalu suara bundamu menyeruak sekilas di antara kericuhan itu.
”Sebentar ya Mas…”
” Ee…Iya-iya”, aku terbata menyambar jawaban. Secepat itu juga jerit tangismu semakin mengecil dan lamat menjauhi telepon.
Tak lama terdengar lagi ucapan di seberang sana, tanpa suaramu.
“Dia sudah tenang Mas, sekarang nonton tivi sama eyang putri”, ujar bundamu memberitahuku.
Hening kembali menyergap. Aku dan bundamu mengudap senyap. Tak banyak kata terucap hingga rasanya lebih baik memutuskan sambungan.
Aku kembali dalam kesendirian, sore itu. Senja bersama air teh, meskipun dari gelas berbeda. Aku dan engkau bersulang dalam ingatan; gelas besar berisi teh hangat, berteman sepotong senja. Dan aku pun mencumbui ruang nyata di sini dengan ingatan tentang harapanmu:
“Ayah Pulang! Ayah Pulang!”
Ayah…pulang….
Gorontalo, 17 September 2011. 13:37 WITA.
Dua Dinding dan Sebuah Kerinduan Kita
15 Okt 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in Lentera Hati Tag:cerita pendek, cerpen, cinta, hati, jakarta, keluarga, kerinduan, sastra
Ruangan ini membentang sepanjang tiga setengah meter dengan lebar dua setengah meter. Letaknya hampir paling ujung dari enam belas kamar yang berderet memanjang. Setiap ruang hanya terpisah tripleks, bertopang kerangka kayu.
Di sinilah kamarku. Salah satu kamar pondokan di antara ribuan bilik sewa di Ibukota. Kamar yang senantiasa akrab dengan keheninganku saat penghuni di sekat lain terlelap. Hanya aku terjaga, berteman alunan nada dan rokok berbatang-batang.
Malam di bilik ini masih seperti malam lalu. Saat aku berkawan lagu dan asap, serta syaraf di bilik otakku yang merajut kerinduan kita. Malam di kamar ini masih seperti malam lalu kala sekat otakku menghadirkan ingatan perjumpaan kita.
“Apa kabar Mas?”
“Baik Dik. Aku masih kerja. Kamu sudah sampai di rumah?”
“Belum Mas. Busnya ngetem lama, padahal aku sudah capeek banget. Hari ini kerjaan menumpuk Mas…”
“Oh, gitu. Sekarang busnya sudah jalan? Ya sudah, nanti sampai rumah buruan mandi, maem, terus segera istirahat yah.”
“Iya….selamat bekerja ya Mas.”
“Ok.”
“Eh Mas-mas…”
“Ya Dik?”
“Hmm…Aku…kangen…”
Begitulah cerita kita mengalir dari hari ke hari. Aku bisa merasakan letih dan kerinduanmu meski dalam khayalan suara, bercampur musik yang mengalun di malam ini. Lukisan tentangmu terukir jelas di dinding kayu kamarku, bercampur asap yang kuhisap.
“Selamat malam Mas, masih sibuk?”
“Yah lumayan, masih ada kerjaan. Sudah maem Dik?”
“Sudah Mas. Hmm…Mas…”
“Iya Dik?”
“Apa kamu merindukanku?”
Suaramu lamat menggaung di bilik ini. Sekat tripleks ini menjadi kanvas yang melukis lekuk parasmu. Senyummu terukir mengembang, hadir dengan hidungmu yang tinggi dan lembut sorot matamu. Helai rambutmu membentuk garis-garis menyerupai potongan-potongan papan kayu pembatas kamar kita di desa. Tempat aku berteman bahagiamu, setiap aku pulang.
“Dik, aku di depan rumah ya”, begitu yang selalu kuucapkan lewat telepon saat tiba dinihari. Tak lama engkau menyambutku dari balik pintu. Kausisipkan senyum tipis di antara wajahmu yang masih kuyu. Kulepas rindu sejenak dengan mencium keningmu, dan engkau pun memelukku.
“Aku bikinkan teh ya Mas”, ujarmu. Aku membalas dengan anggukan.
Beberapa saat kita berdua menikmati senyap dini hari di meja makan. Aku dan engkau bertukar salam dan kata. Kita pun berbalas pandang saat kata tak terucap, sebelum akhirnya beristirahat.
Detik demi detik kebersamaan kemudian berlalu; ketika engkau rebah di sisiku dalam gelap, ketika dan aku dan engkau berbagi hari yang terang benderang berpihak pada kita. Sayang terang hari hanya datang ketika gelap berlalu, dan begitu juga sebaliknya. Siang dan malam selalu berputar, menggantikan pertemuan ini dengan perpisahan.
Minggu depan kamu pulang kan Mas?”, gumammu sayup setengah mengantuk.
Aku masih berdiri di depan tasku, berkemas sambil menjawab pertanyaanmu, “Rasanya tidak Dik. Baru memungkinkan di Minggu berikutnya.”
“Yaaah, Terlalu lama Mas…aku kangen…”, ucapmu merajuk manja memelukku dari belakang. Kubalas dengan berpaling dan memelukmu.
“Bukan aku nggak mau pulang Dik. Kalau uangnya habis untuk pulang, kapan kita bisa menabung?”
Seketika hening saat engkau mendorong tubuhku. Engkau duduk di tepi tempat tidur dengan alis mata berkerut. Wajahmu setengah berpaling sebelum engkau kembali memecah kesunyian.
“Ooo..jadi itu perhitunganmu? Ya sudah, jalankan saja rencanamu!”
“Lalu, Aku harus bagaimana? itu bukan… “
“Sudahlah Mas, semua terserah padamu!”
Suaramu mengiris dan raut mukamu mengeras. Aku tak lagi membalas ucapanmu. Sampai akhirnya bendungan keras di wajahmu perlahan luruh. Matamu menganak sungai, mengalir panjang….
Aku tahu engkau merutuki keadaan. Aku tahu engkau lelah menanti janji malam yang membawa kebersamaan kita. Bukan seperti malam-malam kemarin atau malam-malam nanti yang engkau inginkan; saat aku dan engkau, rebah di kolong langit yang sama dalam sekat berbeda.
Aku mencoba bergeming dengan reaksimu. Sesaat aku membelakangimu, berpura-pura berkemas untuk menekan sesak batin yang mulai membasahi sudut mata. Aku harus menjalankan peranku; membisikkan penghiburan untukmu.
“Kita masih bisa ketemu dua minggu lagi, kan? Tetap semangat, jangan menyerah ya. Aku butuh kamu, Dik…”, ujarku sambil memelukmu.
“Iya Mas. Ya sudah, hati-hati di jalan ya. Kasih kabar kalau sudah sampai di Jakarta”, balasmu sambil mengeringkan air mata.
Aku berpamitan denganmu, lalu pergi. Dinding kayu rumah kita kembali menjauh. Aku pergi membawa serta kesedihan itu seperti biasanya. Namun, aku tetap harus pergi karena tuntutan kebutuhan hidup masih berkuasa atas kita. Kebersamaan itu, masih harus berjalan serupa lagu mengalun yang berakhir senyap dan kepulan asap rokok yang perlahan lenyap.
Malam ini pun aku merayakan kesedihan itu, bersama batang rokok terakhir dan alunan lagu penyair lama.
Akan ke manakah kita ini ?
Tak Nampak lagi kaki langit.
Bahtera ini kecil, gampang terbawa angin….
Kapankah kita ‘kan berlabuh ?
Kapan kita akan berlabuh….
Jakarta, 27 Juli 2011. 01:57
Dalam Jejak Kenangan
15 Okt 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in Mata Hati Tag:Cepern, cerita pendek, Erupsi, jejak, Jogja, Jogjakarta, kenangan, Letusan, Merapi, satra, Yogyakarta
Hari itu akhirnya aku berhadapan lagi denganmu. Sosok yang masih sama, seperti terakhir kulihat lebih dari setengah tahun lalu. Engkau begitu tenang dan anggun. Tak sedikit pun sirat rupa angkuh, meskipun kau kian asing di mataku.
Masih kuingat malam-malam dingin sepanjang Oktober dan November, saat aku masih setia mengunjungimu setiap malam. Kujelajahi lekuk tubuhmu. Kucumbui gemuruh nafasmu dalam gelap. Tak jemu kunanti rona merah dari ujung tubuhmu, kendati udara dingin menggerogoti tubuh kita berdua. Hanya sapuan kabut yang kulihat di puncak tubuhmu dalam cahaya bulan yang menua. Selalu begitu. Aku tak kunjung melihat tepi sosokmu yang merah kesumba.
Sesekali kudengar nafasmu bergemuruh. Lamat-lamat, namun panjang. Suaramu tetap sama, berhenti lalu kudengar lagi. Seiring itu juga cahaya malam datang dan pergi. Terkadang sungguh gelap hingga mataku tak mampu lagi mengamati sudut tubuhmu.
Namun entah mengapa aku tak pernah bosan dengan itu semua. Malam berikutnya aku tetap mengunjungimu. Masih dalam kegelapan yang sama, berteman embun di pucuk ilalang. Setiap malam, merentang waktu bersama belasan batang rokok yang memendek silih berganti. Semua berjalan dari hari ke hari.
Hingga saat itu, engkau mendadak menunjukkan orgasme seutuhnya. Puncakmu berkilat, tak lagi terlihat karena buram debu dan tebaran asap. Engkau membuncahkan nyaris seluruh isi tubuhmu kepada orang-orang sepertiku. Sulit terungkap, namun kekagumanku di malam-malam itu sontak berbalik menjadi ketakutan. Kulihat duka dari mereka yang menuruni tubuhmu. Mereka terluka, terbakar, dan sembab dengan air mata. Sebagian lagi tak jelas ada di mana. Satu hal pasti, mereka terkubur oleh hasratmu yang meledak itu.
Dan saat ini, aku kembali masih dengan kenangan yang sama akan dua sisi dirimu. Keindahanmu, sekaligus duka itu. Siang hari ini mungkin sudah jauh berbeda. Hamparan pasir membentang luas, orang-orang berkerumun dalam ceria, sekaligus mengenang kedukaan di tubuhmu. Pun aku dan beberapa kawan baruku.
Salah seorang dari mereka berbisik mempergunjingkanmu. ”Dia indah, sekaligus menakutkan Mas. Aku masih ingat tatapan hampa orang-orang yang pergi dari sini. Tapi entah kenapa aku selalu rindu menatap wajah moleknya”. Ya, mereka yang setiap hari menjejak sejarah hidup di tubuhmu juga merasakannya. Begitu juga aku. Selalu ingin kembali, menikmati keindahanmu.
Merapi-ku, Yogyakarta-ku.